3 Hal Yang Membuat Panas Perang Deposito

3 Hal Yang Membuat Panas Perang Deposito

78
0
SHARE

3 Hal Yang Membuat Panas Perang DepositoAnalisaToday – Awal pekan ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan panggilan untuk suku bunga deposito bank koresponden nasional yang dianggap di luar batas kewajaran. Harapan dari OJK, bank mengurangi suku bunga deposito untuk deposito lebih dari Rp 2 miliar yang mendapatkan bunga khusus jauh di atas tingkat LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) di level 7,75 persen. Bank Indonesia (BI) untuk mendorong bank-bank besar untuk menurunkan suku bunga deposito. Jika membuat langkah-langkah tertentu akan diikuti oleh bank-bank yang berada di bawah.

“Di masa lalu ada juga telah 14 bank besar, karena mereka adalah pemimpin pasar, jika bank-bank besar telah berjanji untuk memangkas suku, yang lain juga terlibat,” kata Direktur Eksekutif Komunikasi BI Tirta Segara.

Pada bank rata-rata menawarkan deposito dengan bunga 11 persen per bulan. Namun, bankir muncul mau menurunkan dan menyangkal setiap perang bunga deposito antara mereka. Bank mengeluarkan beberapa hal terkait dengan bunga deposito yang tinggi. Berikut adalah ulasannya.

Pemerintah meminta bunga tinggi

Dana dari pemerintah dan dana pusat dan daerah dikelola oleh Badan Jaminan Sosial (BPJS), merupakan sumber likuiditas di perbankan yang menjadi rebutan. Presiden Komisi Nasional Perbankan (PERBANAS) Sigit Pramono menyayangkan sikap lembaga pemerintah yang ingin mencari bunga yang tinggi. Kemudian mendorong bank untuk terus menaikkan suku bunga untuk mendapatkan likuiditas.

Kekeringan likuiditas

Bank Indonesia mengatakan saat ini, likuiditas sudah sangat terbatas, begitu agresif dalam menjual deposito perbankan yang lalu. Tapi ada cara lain untuk membuat perbankan tidak hanya memberikan rasio yang tinggi, dengan mencari sumber-sumber pendanaan di masa depan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, tingkat perang bunga deposito masih akan terjadi, jika bank belum menerima sumber dana baru yang lebih potensial di masa depan.

3.Agresif kucurkan kredit

Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara mengungkapkan bahwa salah satu alasan untuk perang pada deposito, karena bank-bank di Indonesia masih sangat agresif dalam mencari pertumbuhan kredit. Sementara loan to deposit ratio (LDR), telah mencapai 90 persen. Jika bank begitu agresif dengan LDR status mereka tinggi, maka dana yang dicari, akan menjual lebih mahal.

(Santi Damayanti)