Mengenal Perbedaan Depostio Berjangka dan Deposito Syariah

Mengenal Perbedaan Depostio Berjangka dan Deposito SyariahAnalisaToday – Berbagai investasi untuk masa depan terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa jenis investasi baru untuk menarik orang. Bahkan, ada beberapa investor yang berani mengambil risiko besar untuk mendapatkan manfaat maksimal. Namun tidak sedikit investor yang masih menggunakan investasi klasik, yakni adalah risiko minimal sebagai pilihan pertama untuk tabungan masa depan, seperti produk deposito.

Ada dua jenis deposito, deposito berjangka dan deposito syariah. Jika Anda juga tertarik untuk berinvestasi di produk perbankan ini, kita akan mengenal mereka.

Perbedaan Depostio Berjangka dan Deposito Syariah

Deposito, mirip dengan tabungan, tetapi mengalami kenaikan suku bunga. Tapi waktu untuk mengambil uang ditentukan oleh bank atau tanggal jatuh tempo, mulai dari 1, 3, 6, 12 atau 24 bulan. Ketika diberikan sebelum tanggal jatuh tempo, pemohon akan dikenakan penalti. Mata uang selain rupiah, yang dapat dipilih adalah dolar AS. Dan beberapa bank lain juga menyediakan simpanan dalam mata uang dolar Hong Kong, dolar Singapura, dolar Australia, yen, pound, euro dan yuan.

Deposito Syariah, jenis investasi dengan menggunakan prinsip-prinsip Islam, yaitu mudharabah merupakan bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih di mana pemilik modal di bawah manajemen sejumlah modal dengan sistem bagi hasil keuntungan, sedangkan pendapatan yang diterima deposan dengan keuntungan bank syariah. Pilihan investasi pada jenis deposito adalah dari 1, 3, 6 atau 12 bulan. Keputusan pada tanggal jatuh tempo sebelum biaya administrasi. Pilihan mata uang untuk investasi yang sama dengan deposito.

Ada dua bentuk mudharabah, yaitu Mutlaqah mudharabah (Terikat Investasi Rekening, Urie) dan mudharabah muqayyadah (Restricted Investment Account, RIA). Perbedaan kedua adalah pemilik deposito syariah mudharabah dana Mutlaqah tidak memberikan pembatasan atau persyaratan khusus bagi bank syariah untuk mengelola investasi mereka, baik yang berkaitan dengan tempat, cara dan subjek investasi, sedangkan mudharabah muqayyadah yang memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam mengelola investasi mereka.

(Rahmat Hidayat)