Efek Melemahnya Rupiah Di Tahun 2015

Efek Melemahnya Rupiah Di Tahun 2015

245
0
SHARE

 

Efek Melemahnya RupiahAnalisaToday – Dalam kurun waktu akhir-akhir ini telah terjadi depresiasi atau emahnya nilai tukar rupiah pada dolar AS. Nilai tukar (kurs) per tanggal 15 April 2015 berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), beli Rp 12.900,00 per dolar AS dan jual masih di sekitar angka Rp 13.000 perdolar AS. Dengan begitu kurs rupiah pada dolar AS belum ada indikasi untuk menguat lagi menjadi sekitar Rp 12.000,00 per dolar AS.

Ini tentu bisa berdampak positif dan negatif pada ekonomi makro dan pula dunia bisnis. Adapun dampak negatifnya sebagai berikut. Pertama, makin lebarnya defisit neraca perdagangan yang semakin sulit bagi BI untuk dapat mendorong defisit transaksi ke dalam tingkat di bawah 3%. Kejadian ini terkait dengan besarnya kebutuhan masyarakat pada barang impor yang berakibat pengeluaran devisa yang semakin besar.

Kedua, meningkatnya kupta impor yang dibarengi dengan melemahnya rupiah kian mendorong meningkatnya inflasi ekonomi. Pelaku usaha yang sudah menggunakan bahan baku (input) impor akan mengalami kenaikan modal produksi dalam rupiah. Bila sebagian besar input dapat diimpor tapi hasil produksinya dijual di pasar domestik, maka produsen akan dipastikan akan mengalami kesulitan dalam usahanya.

Ketiga, melemahnya rupiah pun juga dapat membebani anggaran negara. Berdasar data Kementerian Keuangan (2014), ketika rupiah melemah Rp 100,00 efisit anggaran akan bertambah menjadi Rp 940,4 miliar sampai Rp 1,21 triliun. Bila saja rupiah melemah dari Rp 12.000,00 menjadi Rp 13,000,00 pe rdolar AS, defisit anggaran  akan mencapai Rp 9 triliun-Rp 12 triliun.

Keempat, peningkatan beban tersebut akan mengakibatkan terjadinya utang perusahaan dan pemerintah.  Berdasar dengan apa yang ada dalam data BI (2014), setiap depresiasi Rp 100,00 per dolar AS, biaya bunga utang negara kian naik Rp 207 miliar atau sekitar Rp 2 triliun bila rupiah melemah Rp 1.000,00. Sebagai informasi saja, di mana 80% utang perusahaan tidak menggunakan hedging (lindung nilai).

Kondisi ini jika terjadi dalam jangka panjang tentu menyebabkan perekonomian menjadi stagnan. Bila tidak stagnan maka pergerakan roda perekonomian akan kian melambat dan target pertumbuhan ekonomi tak tercapai.

(Santi Damayanti)