Hubungan Nilai Tukar Rupiah Dan Harga Barang Di Pasar (1)

Hubungan Nilai Tukar Rupiah Dan Harga Barang Di Pasar (1)

134
0
SHARE

 

Hubungan Nilai Tukar Rupiah Dan Harga Barang Di Pasar (1)AnalisaToday – Saat-saat nilai tukar Rupiah melemah seperti sekarang biasanya dibersamai dengan kenaikan harga-harga produk di pasaran, mulai dari produk elektronik sampai sembako. Kenaikan harga barang-barang dengan terus menerus dalam suatu periode waktu, yang disebut sebagai inflasi, memang begitu berkaitan erat dengan nilai tukar. Hubungan keduanya bak perumpamaan ayam dan telur. Terlebih dahulu mana, telur, atau ayam? Demikian pula, lebih dulu mana, inflasi naik, atau rupiah melemah?

Nilai Tukar Rupiah Yang Lemah Bisa Mendorong Inflasi

Tatkala nilai tukar Rupiah rendah, harga-harga dari barang impor kian meningkat. Coba saja anda bayangkan, kalau apel impor sebiji seharga 2 dollar. Dahulu, dua dollar itu sama dengan 20.000 rupiah, namun sebab Rupiah melemah jadi 10.000 per dollar, harga satu buah apel itu jadi 22.000. Ini hanya satu item barang. Padahal, Indonesia bukan saja mengimpor apel, dalam jumlah besar impor Indonesia adalah pengimpor bahan baku.

Mengimpor bahan baku berarti bahwa kita mendatangkan bahan baku bidang industri dari luar negeri. Bahan baku itu akan diolah lagi supaya menjadi produk yang siap pakai di Indonesia, layaknya untuk produksi Tempe, kita masih harus impor Kedelai. Bila nilai rupiah cenderung melemah, secara otomatis biaya produksi berbahan baku Kedelai akan kian melambung, dan implikasinya pada kita adalah harga Tempe dan olahan Kedelai layaknya Tahu, Kecap, dan lainnya pun kian meningkat.

Inflasi Naik, Nilai Tukar Melemah

Inflasi yang terlalu tinggi tentu membuat modal produksi barang di Indonesia ikut tinggi juga. Akibat ialah produsen terpaksa harus meningkatkan harga produknya. Jikalau barang itu merupakan barang ekspor, kenaikan harga bisa menyebabkan permintaan pada barang tersebut dari luar negeri melemah. Mengapa berkurang? Boleh jadi, terdapat negara lain yang dapat menawarkan barang sama dengan harga lebih rendah, makanya mereka yang dulu membeli dari Indonesia kemudian pindah membeli ke negara lain dengan santai. Boleh jadi juga, daya beli dari negara itu tiada memungkinkan mereka dalam membeli barang terkait dengan jumlah yang sama.

(Muhammad Rizal)