Recovery Data Fundamental Diprediksi Akan Perkuat Rupiah di Tahun 2015

Recovery Data Fundamental Diprediksi AKan Perkuat Rupiah di Tahun 2015AnalisaToday – Tampaknya bahwa perekonomian Indonesia akan membaik pada 2015 seiring dengan membaiknya perekonomian negara-negara Asia Tenggara. PDB diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,8%, defisit transaksi berjalan diperkirakan menurun sebagai neraca perdagangan telah meningkat dan inflasi diperkirakan akan jatuh ke tingkat yang aman tanpa perkiraan kenaikan harga bahan bakar (bensin) tahun ini.

OctaFX

Selama tahun lalu perekonomian Indonesia kurang menggembirakan. Setelah kenaikan harga BBM tahun lalu karena berkurangnya subsidi pemerintah, inflasi meningkat tajam sampai akhir tahun 2013, 8,4%, hampir dua kali lipat tingkat inflasi pada tahun 2012 adalah 4,3%. Menurut hasil penelitian di Standard Chartered, PDB diperkirakan menurun dari 6,2% menjadi 5,6%. Meskipun semua data dasar yang diterbitkan pada tahun 2013, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan membengkak menjadi $ 24400000000 untuk $ 32300000000.

Kurs IDR (Rupiah Indonesia) melemah, selain karena fundamental memburuk juga dipicu oleh kekhawatiran tentang arus keluar modal karena penipisan Fed. Tahun lalu EUR / USD turun menjadi 12.171 dibandingkan dengan akhir tahun 2012 berada di 9,793.

Namun, kondisi bisa fundamental berbeda tahun ini. Neraca perdagangan yang berkontribusi paling besar terhadap defisit transaksi berjalan diperkirakan akan membaik sejalan dengan penurunan volume impor. Tanda-tanda sudah terlihat pada kuartal keempat tahun 2013, dengan surplus perdagangan sebesar $ 777.000.000 pada bulan November dibandingkan dengan Oktober yang hanya surplus $ 24 juta. Defisit perdagangan Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2012 adalah 1,7 miliar, dan sampai November 2013 mencapai angka defisit $ 5600000000.

Januari 2014 harus mengadopsi undang-undang melarang ekspor produk mineral yang memiliki potensi untuk menghilangkan penerimaan negara dari $ 5 miliar. Namun, karena larangan tidak termasuk batubara menyumbang 13% dari total ekspor dari Indonesia, dampak pada total ekspor masih terbatas. Jika neraca perdagangan membaik, defisit transaksi berjalan diperkirakan menurun. Sebelum 2011, surplus transaksi berjalan selalu konstan.

Batas defisit anggaran Indonesia adalah 3%, dan ketika bulan Juni 2013 berada di atas batas pemerintah memotong subsidi bahan bakar yang sebenarnya sudah diperingatkan oleh para ekonom yang akan mengganggu kinerja ekonomi secara keseluruhan. Karena kenaikan harga BBM hingga 44% mengakibatkan inflasi tahun 2013 hampir dua kali lipat pada tahun 2012.

FBS Markets Inc

(Rahmat Hidayat)