Sekilas Tentang Redenominasi di Dunia (Part I)

Sekilas Tentang Redenominasi di Dunia (Part I)AnalisaToday –¬†Redenominasi mata uang dilakukan dari 90 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1923 dibuat oleh Jerman, di mana Jerman memiliki inflasi yang sangat tinggi (hiperinflasi). Sejauh ini, negara-negara di dunia yang telah redenominasi mata uangnya memiliki lebih dari 85 negara. Sementara Indonesia redenominasi pidato pertama kali muncul pada tahun 2010 sebagai Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution untuk menghapus tiga angka nol di belakang dolar demi menyederhanakan perhitungan, karena fraksi dolar sudah sangat besar, sampai Rp 100.000, -. yang merupakan denominasi terbesar di dunia saat ini setelah Dong Vietnam 500.000.

Redenominasi adalah penyederhanaan penulisan dinilai akan dibuat lebih kecil dalam kondisi ekonomi yang stabil dan bergerak menuju mata uang sehat. Penerapan redenominasi berbeda di Indonesia pada saat Jerman, Argentina, Brazil dan Israel yang menghilangkan beberapa angka nol dalam mata uang masing-masing negara karena inflasi yang sangat tinggi, Indonesia telah menerapkan redenominasi kondisi ekonomi yang stabil, di mana tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, PDB atas dasar harga berlaku dan PDB atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan tren yang stabil.

Redenominasi di Indonesia adalah penyederhanaan mata uang dalam hal pecahan dolar akan disederhanakan dengan menghilangkan tiga nol, misalnya, nilai Rp 100.000, -. Setelah redenominasi akan Rp 100, – Rp nilai uang.. 1.000 – Rp 1, -. Perhatikan bahwa meskipun tingkat nominal berbeda, tetapi nilai uang tetap sama. Sebagai contoh, jika Anda membeli ponsel hari ini dengan harga Rp 1.000.000, -. Sebelum menggunakan redenominasi mata uang, Anda dapat membayar dengan mata uang setelah konversi sebesar Rp 1.000. -.

Ini berarti bahwa, secara umum, redenominasi mata uang tidak memiliki dampak langsung terhadap perekonomian, karena nilai mata uang adalah tetap dan nilai jual akan tetap sama, tidak ada konsekuensi bagi perekonomian dalam skala mikro dan makro, permintaan dan penawaran barang dan jasa tidak akan berubah, investasi, pengeluaran pemerintah, neraca pembayaran dan nilai ekspor tidak akan berubah, kecuali display tersebut hanya di atas kertas. Tidak berdampak pada perekonomian, dengan pengecualian dari dampak psikologis pada masyarakat dari tingkat pengeluaran rumah tangga itu bisa berubah.

(Rahmat Hidayat)