Akhir Pekan, Rupiah Diprediksi Menguat

by

Financeroll – Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (18/1) diprediksi menguat. Pasar berekspektasi positif atas rilis data-data ekonomi China. Potensi penguatan rupiah akhir pekan ini salah satunya karena fokus pasar pagi ini tertuju pada serangkaian data China. Pasar akan melihat, apakah negeri Tirai Bambu itu bisa bangkit setelah melambat dalam beberapa kuartal terakhir.

Selain itu, China akan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB), laju investasi di perkotaan yang sudah diprediksi stabil di level 20,7%, output (produksi) industri naik dari 10,1 menjadi 10,2%, dan penjualan ritel menguat dari 14,9% menjadi 15%. Karena itu, rupiah cenderung menguat dalam kisaran 9.630 hingga 9.700 per dolar AS.

Secara umum data-data China cukup positif terutama untuk data PDB yang sudah diprediksi naik ke 7,8% untuk kuartal IV-2012 dari publikasi sebelumnya 7,4%. Jika itu yang terjadi, bangkitnya ekonomi China cukup signifikan sehingga ada harapan momentum pertumbuhan ekonomi dunia dapat berlanjut.

Meski demikian, zona euro masih dilanda resesi dan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS masih tidak pasti terutama jelang negosiasi debt ceiling (batas atas atau atap utang AS) hingga batas waktu awal Maret 2013. Jika ekonomi China bangkit, kinerja ekonominya akan mendongkrak nilai ekspor dari Indonesia sehingga bisa mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia yang selama ini jadi sandungan bagi rupah. Pada akhirnya bisa memperkuat rupiah.

Di sisi lain, potensi penguatan rupiah juga karena data AS yang dirilis semalam cenderung variatif. Kondisi ini seharusnya masih menjaga ekspektasi akan berlanjutnya pelonggaran moneter negara adidaya itu. Pasar memang mendapat suguhan data building permit yang angkanya sudah diprrediksi naik dari 900 ribu menjadi 910 ribu.

Begitu juga dengan data housing start yang naik dari 860 ribu menjadi 890 ribu dan klaim pengangguran yang sudah diprediksi berkurang dari 371 ribu menjadi 369 ribu. Tapi, indeks manufaktur Piladelphia sudah diprediksi melemah dari 8,1 menjadi 7,1 sehingga bisa menjadi tekanan negatif bagi dolar AS dan menguntungkan posisi rupiah. Sebagai informasi, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (17/1) ditutup menguat 30 poin (0,31%) ke posisi 9.660-9.680. [geng]