Distorsi Nilai Perdagangan China Terdeteksi Membaik

by

Distorsi Nilai Perdagangan China Terdeteksi MembaikAnalisaToday – Baru-baru ini terdata sebuah penyimpangan tipis terhadap angka perdagangan antara Cina daratan dengan Hongkong sehingga dibutuhkan pengawasan lebih ketat kepada hubungan perdagangan bilateral kedua kawasan tersebut pada 8 bulan sebelumnya.

Seperti yang diberitakan oleh Financeroll, tercatat bahwa import Hongkong pada Desember lalu dari Cina turun 1.9% dari awal tahun lalu dengan nilai $ 22.7 miliar, berdasar data Departemen Statistik Hongkong. Sedangkan berdasar bea cukai Cina melontarkan laporan ekspor ke Hongkong mempunyai nilai $ 38.5 miliar atau naik 2.3% pada awal bulan ini. Kondisi perbedaan pada Desember lalu adalah sekitar 70%, suatu angka perbedaan sejak April lalu.

Disini timbul kecurigaan dari pasar sehingga penafsiran terhadap angka angka tersebut berdasar laporan awal tahun lalu terdapat sebuah laporan ekspor palsu guna menyamarkan capital inflows atau aliran dana yang masuk sesungguhnya dimana penggelembungan data perdagangan Cina guna menyisiati regulasi baru pada Mei lalu.

Indikasi ekpor yang tak sesuai hanyalah sebuah upaya menutupi modal yang sebenarnya karena terendus yang masuk uang sebenarnya adalah ‘uang panas’, demikian beberapa narasumber di pasar uang dunia. Indikasi perbedaan ini akan dimanfaatkan untuk menahan apresiasi dari yuan pada 2 bulan ini.

Perbedaan angka pelaporan dari kedua wilayah bertetangga ini memang sudah lama terjadi, bahkan sebelum 2013 terendus lebih parah data penyimpangannya. Dari Cina, pada laporan 10 Januari, bahwa Desember lalu ekspor naik 4.3% dan impor naik 8.3%, dan ini diklaim sebagai Negara dengan mempunyai perdagangan didunia melewati Amerika Serikat. Sedang laporan dari Hongkong, bahwa total impor tahunan naik 1.8% pada Desember llau, sedangkan ekspor tak berubah.

Terdeteksi pula bahwa perbedaan angka ini terjadi karena system pelaporan dari masing masing bea cukai tak sama dimana Cina mencatat laporan ekspornya ketika barang tersebut pergi, sementara Cina masih harus menunggu 14 hari setelah barang tiba di pelabuhan untuk direkam sebagai barang impor. Dan system ini telah mampu mengurangi kesenjangan yang terjadi sebelumnya.

Namun potensi surat faktur fikitif memang masih menjadi kendala terhadap seberapa benarnya angka pelaporan perdagangan di Cina tersebut karena pasar juga mencium bahwa perdagangan di 2 wilayah itu cuman bolak balik saja atau biasa disebut ‘round tripping’ dimana terjadi perdagangan antara Cina dan Hongkong yang mondar mandir saja dan mulai tak layak dijadikan alternative likuiditas injeksi.

Dari hal distorsi yang terjadi di Desember lalu, membuat yuan mengalami kenaikan sekitar 0.7% dan menjadi kenaikan terbesar sejak April tahun lalu. Cina sebagai Negara yang mempunyai cadangan devisa terbesar di dunia menyatakan bahwa pada kuartal keempat tahun lalu devisa nya bertambah $ 157 miliar dollar sehingga menjadi $ 3.82 triliun, berdasar laporan dari bank sentral Cina, People Bank of China.

(ARP/AT)