Dolar menguat atas Yen,Abe inginkan inflasi 2%. SNB juga perlemah Frank

Pada penutupan perdagangan Senin (15/01) diwaktu bursa New York, Dolar AS berhasil berbalik arah atas tekanan yang menderanya, dengan merangkak naik kembali ke puncak tertingginya terhadap Yen Jepang. Kenaikan ini terjadi setelah laporan yang menyatakan bahwa Bank of Japan akhirnya menyerah terhadap tekanan pemerintah untuk menaikkan target inflasinya.

Dalam laporan tersebut, dinyatakan bahwa Bank of Japan akan menyepakati sebagaimana yang diisyaratkan Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mematok target inflasi di angka 2%, hal ini akan berakibat pada kebijakan moneter yang lebih melunak kembali. Saat ini, pihak bank telah mentargetkan inflasi hanya di angka 1%. Keputusan menaikkan target inflasi diangka 2% akan diumumkan secara resmi setelah pertemuan depan, yang akan dilakukan pada 21-22 Januari nanti.

Membuat Yen Jepang melemah, merupakan upaya untuk mencapai target inflasi sebesar 2%, setidaknya menjadi target jangka menengah untuk menghindari deflasi di Jepang. Prospek aksi terbaru untuk mengyingkirkan ancaman deflasi telah membuat Dolar AS dalam perdagangan USDJPY naik hingga 89.64 Yen, merupakan posisi tertinggi sejak Juni 2010, meski kemudian Dolar turun ke Yen 89.37 secara perlahan, namun masih lebih tinggi dari posisi penutup di perdagangan hari Jumat di Yen 88.23.

Dalam setahun terakhir ini, Dolar AS terhadap Yen mengalami kenaikan sebesar 16%. Pemerintahan yang baru di Jepang akan membuat kebijakan yang lebih bersifat longgar dan secara agresif dijalankan untuk mengdorong perekonomian mereka, termasuk melemahkan Yen itu sendiri. Sementara dalam perdagangan silang antara Euro dan Yen juga berada di level Yen 120 untuk pertama kalinya sejak Mei 2011.

Dolar diawal perdagangan mengalami tekanan dan berbalik positif setelah bursa AS juga mengalami koreksi. Dolar AS cenderung melemah dengan upaya Risk Appetite para Investor. Indek Dolar AS turun ke 79.525, dari sebelumnya di 79.566. Dalam beberapa waktu kedepan, Dolar AS nampaknya akan dilanda aksi jual mengingat pernyataan-pernyataan para pejabat the Fed dalam minggu ini yang bisa membuat pasar lebih berani mengambil resiko, Risk appetite. Banyak pernyataan yang akan bersifat dovish, merujuk pada upaya The Fed yang juga tidak ingin buru-buru untuk mengakhiri arus likuiditas ini.

Euro naik 0.9% atas Swiss Frank, lonjakan terbesar sejak November 2011. Euro dibeli di 1.2299 Frank Swiss yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2011. Hal ini mengembirakan pihak Swiss National Bank, dimana sejak 2011 mereka telah mendeklarasikan untuk melakukan pembelian devisa asing dalam jumlah tak terbatas guna menahan aprresiasi Frank terhadap Euro, dimana batas yang menjadi perhatian mereka ada di EUR/CHF pada 1.20 Frank. Dengan kondisi terkini, nampaknya SNB telah memenangkan pertempuran.

Pada perdagangan GBPUSD turun ke $1.6078 dari sebelumya ke $1.6127, sementara pada AUDUSD naik ke $1.0564 dari sebelumnya di $1.0537.