Tunggu Keputusan BI Rate, Rupiah Diperkirakan Menguat

by

Pasar Masih Kawatir Situasi di Siprus, Rupiah Cenderung MelemahFinanceroll – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini masih cenderung stabil dan diprediksi berada di level Rp 9.685-Rp 9.715. Adapun yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah keputusan Bank Indonesia (BI) tentang BI Rate.  Pasar modal masih menunggu keputusan BI apakah akan tetap mempertahankan BI rate di level 5,75 persen atau menaikkan BI rate mengingat tingkat inflasi Indonesia hingga Maret 2013 cukup tinggi.Pemerintah juga perlu memperhatikan cadangan devisa semakin turun, karena penurunan cadangan devisa ini merupakan konsekuensi dari langkah intervensi rupiah yang dilakukan oleh BI.  Merujuk data BI, per 28 Maret 2013, cadangan devisa tercatat sebesar USD 104,8 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan akhir Februari 2013 yang sebesar USD 105,18 miliar.  Hanya saja jika dibanding dengan Januari dan Februari lalu  penurunan cadangan devisa semakin kecil.

Sebagai informasi,  pada Rabu (10/4)  rupiah ditutup menguat ke level Rp 9.690-Rp 9.710. Penguatan ini didukung oleh adanya intervensi BI untuk tetap menjaga rupiah berada di level  aman  Rp 9.700.  Hal ini didasari oleh pernyataan dari Agus Martowardojo yang menyatakan bahwa pemerintah cukup nyaman dengan kurs rupiah yang berada di level Rp 9.700.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan penguatan. Pergerakannya disokong oleh sentimen dari upaya bank sentral Jepang dan AS serta ekspektasi pelonggaran moneter oleh The People’s Bank of China (PBoC) akan membantu mendorong upaya pemulihan ekonomi global.

Selain itu,  China merilis turunnya inflasi dari periode sebelumnya sehingga pelaku pasar berekspektasi pemerintah China akan mengurangi pengetatan moneter ekonominya.  Terpengaruh dari positifnya data ekspor impor China meski secara total mencatatkan penurunan pada neraca perdagangannya.

Sebelumnya, rupiah ditutup menguat pada perdagangan lalu, hal  itu didukung oleh sentiment regional di mana sentimen positif tersebut adalah tingkat impor China yang naik melampaui estimasi pada Maret. Data Badan Pusat Statistik China menunjukkan, tingkat impor naik 14,1 persen pada Maret. Sementara, tingkat ekspor mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 10 persen dibanding tahun sebelumnya. [geng]