IHSG Dibuka Pada Catatan Negatif Selasa Pagi

IHSG Dibuka Pada Catatan Negatif Selasa PagiAnalisaToday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada catatan negatif pada Selasa karena melemah sebesar 0,14 persen menjadi 5,437.13. Saham dari perusahaan blue chip diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sementara menurun sebesar 0,20 persen ke 944,65 poin.

“Share perdagangan di BEI mempengaruhi kinerja nilai tukar rupiah, yang melampaui Rp 13.000 per dollar,” kata kepala Valbury Asia Securities Alfiansyah di Jakarta, Selasa seperti dikutip kantor berita Antara.

Alfiansyah mengatakan, depresiasi mata uang domestik didorong oleh peningkatan ekonomi AS seperti fakta bahwa sektor swasta, termasuk bisnis pertanian, menambahkan 295.000 pekerjaan baru selama Februari 2015, lebih tinggi dari pelaku pasar yang sebelumnya diharapkan, 240.000 pekerjaan baru.

Tingkat pengangguran AS juga turun ke 5,5 persen bulan lalu dibandingkan dengan 5,7 persen pada Januari.

“Data ini telah menciptakan sentimen di pasar bahwa Federal Reserve AS akan segera meningkatkan tingkatnya,” katanya, menambahkan bahwa para pemain diprediksi tingkat baru bisa dilaksanakan pada bulan Juni.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Haryanto, mengatakan bahwa ekspektasi pasar bahwa The Fed akan segera meningkatkan tingkat perusahaan telah mendorong investor untuk menjaga aset mereka di greenback AS.

Tingkat perdagangan Rupiah antar bank pada Selasa pagi disusutkan sedikit oleh lima basis poin menjadi Rp13,030 per dolar AS dari Rp 13.025 per dolar AS dalam perdagangan sebelumnya. NH Korindo Securities Indonesia kepala penelitian Reza Priyambada mengatakan kenaikan lapangan kerja baru di AS dan penurunan tingkat pengangguran pada bulan Februari tahun ini telah menciptakan sentimen positif di pasar, menciptakan lebih banyak kemungkinan bahwa Federal Reserve akan meningkatkan tingkat dana segera.

Kondisi ini telah meningkatkan permintaan greenback AS di pasar keuangan global, menyakiti banyak mata uang di seluruh dunia terutama di pasar negara berkembang seperti rupiah.

“Sentimen positif dari pasar domestik setelah Bank Indonesia mengumumkan bahwa cadangan devisa negara naik menjadi US $ 115.500.000.000 pada bulan Februari tidak cukup untuk melawan sentimen dari Fed,” kata Reza seperti dikutip kantor berita Antara.

(Muhammad Rizal)