Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Berfluktuasi Pada Jumat Pagi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Berfluktuasi Pada Jumat Pagi

39
0
SHARE

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Berfluktuasi Pada Jumat PagiAnalisaToday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berfluktuasi pada Jumat pagi. Setelah membuka 20.21 poin lebih rendah pada 4,442.02, indeks komposit mengubah arah, naik 23,39 poin (0,52 persen) ke 4,485.61 satu jam kemudian. Rupiah, sementara itu, berada di bawah tekanan dan mundur kembali melewati level psikologis 13.600 per dolar AS. Pada pukul 09:30, rupiah tembus Rp 13,637, dibandingkan dengan nilai penutupan hari Kamis dari 13,597.

Pada pembukaan hari Jumat, ada 51 saham yang naik, 103 saham yang mengalami penurunan dan 47 saham tidak berubah, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 414.430.000.000, dan 430.880.000 saham diperdagangkan.

“Indeks acuan saham akan menjadi berfluktuasi dan cenderung melemah setelah bergerak antara 4.401 dan 4.607,” kata seorang analis di Sucorinvest Central Gani, Achmad Yaki Yamani, seperti dikutip kontan.co.id di Jakarta.

Secara teknis, Achmad melanjutkan, IHSG bisa menguji level resistance dari 4505 sebagai reli kemarin diikuti oleh penurunan volume perdagangan. Dia juga mengatakan rupiah stabil akan menghibur pedagang, menghindari panik atau penjualan besar.

Seorang peneliti dan analis PT Fortis Asia Futures, Sri Wahyudi, mengatakan bahwa pasar valuta asing akan mengambil tindakan pencegahan ekstra tanda-tanda kenaikan tarif Fed AS pada bulan Desember, yang akan mempengaruhi nilai rupiah.

“Pasar sedang menunggu keputusan apakah BI rate akan memangkas dan apakah tingkat dana Fed akan meningkat,” katanya, memprediksi rupiah berpotensi akan melemah dalam perdagangan Jumat setelah bergerak antara Rp 13.400 dan Rp 13.650 terhadap dolar.

Pejabat tertinggi kedua =di Federal Reserve mengatakan hari Kamis bahwa dolar yang kuat dan kelemahan ekonomi global telah menjadi hambatan pada pertumbuhan. Wakil Ketua Fed Stanley Fischer mengatakan bahwa keputusan oleh bank sentral untuk menjaga kebijakan tingkat suku bunga ultra-rendah di tempat telah menjadi faktor kunci dalam melindungi perekonomian.

(Reshie Fastriadi)