Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Melonjak Senin Pagi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Melonjak Senin Pagi

27
0
SHARE

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Melonjak Senin PagiAnalisaToday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,61 persen, atau 678,5 poin, ke 4,227.6 pada pembukaan Senin, dengan semua indeks sektoral juga meningkat. US pekerjaan manufaktur turun 27.000 pada bulan September, memicu spekulasi bahwa  tingkat dana Federal Reserve AS akan tetap seperti ini pada bulan Oktober dan dengan demikian menaikkan IHSG.

Dua puluh menit setelah pembukaan, IHSG mencapai level psikologis penting 4.300 bersama dengan pasar ekuitas utama di Asia. MSCI Asia Pacific Index naik 0,4 persen, naik to126.92, menandai kenaikan pembukaan berturut-turut. Indeks Topix Jepang naik 0,9 persen, Korea Selatan Kospi menambahkan 0,7 persen dan Australia S & P / ASX 200 naik 1,8 persen. Sementara itu, pasar saham China ditutup karena liburan.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan IHSG masih akan memiliki ruang untuk meningkat pada Senin, tergantung pada data rilis yang berasal dari kedua ekonomi domestik dan global.

“Meningkatnya daya masih ada dan IHSG berpotensi akan mencapai level resistance-nya, selama level support 4.120 dengan aman mampu melewati,” kata William.

Investor, akan berhati-hati akan melihat laba Q3 rilis emiten, diharapkan akan muncul di kuartal sebelumnya dan untuk mendukung peningkatan lebih lanjut dalam IHSG. Pada pembukaan Senin di Bursa Efek Indonesia (BEI), 126 saham meningkat sementara 29 menurun. Sisanya 51 saham tidak bergerak. Investor diperdagangkan 476.000.000 saham, dengan Rp 446 miliar (US $ 30.600.000) nilai transaksi.

Indeks sektoral keuangan memimpin kenaikan dengan kenaikan 3,4 persen, diikuti oleh indeks sektoral konsumen (2,35 persen) dan indeks manufaktur (2,07 persen).

Sementara itu, Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Keuangan mengungkapkan pada hari Sabtu bahwa adalah mungkin bahwa rupiah bisa jatuh ke Rp 15.000 per dolar AS pada akhir tahun sebagai akibat dari ketidakpastian atas suku bunga Federal Reserve AS.

Ekonom Indef Dzulfian Syafrian mengatakan pasti Fed tingkat dana rencana kenaikan adalah salah satu dari beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia.

(Reshie Fastriadi)