Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Menurun Pada Selasa Pagi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Menurun Pada Selasa Pagi

55
0
SHARE

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Menurun Pada Selasa PagiAnalisaToday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,5 persen menjadi ditutup pada 4,525.91 poin pada perdagangan hari pertama 2016, sedangkan rupiah di pasar spot disusutkan oleh 95 poin menjadi 13.925 per dolar AS.

Kepala penelitian Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan pasar saham utama Asia pindah ke wilayah negatif, yang akhirnya mendorong pedagang lokal untuk mengambil posisi jual pada hari Senin.

“Selama jam perdagangan, IHSG menguat, tapi kemudian mundur ke area negatif setelah pasar saham China mengalami penurunan,” katanya seperti dikutip oleh kantor berita Antara, Senin.

Namun, ia memperkirakan, IHSG akan bergerak kembali ke wilayah positif dalam jangka menengah, karena investor asing mungkin ingin membeli ke ‘Januari Effect’ fenomena dengan harga saham biasanya meningkat pada bulan Januari lebih daripada di bulan lainnya.

Analis Capital Yuganur Wijanarko mengatakan HD meskipun kinerja yang buruk IHSG pada tahun 2016 perdagangan awal, beberapa investor pada hari Senin menunjukkan optimisme dengan mengumpulkan blue chip dan liners kedua. Pada hari Senin, Bursa Efek (BEI) Indonesia mencatat 179.722 transaksi dengan volume 2,1 miliar lembar saham senilai Rp 2,8 triliun (US $ 201.100.000).

Investor asing mencetak net buy sebesar Rp 84200000000 (US $ 6 juta). Sebanyak 77 saham naik, sementara 94 melemah dan 218 tidak berubah. Di pasar regional, Indeks Hang Seng turun 2,7 persen, Indeks Nikkei melemah 3,1 persen, dan indeks Straits Times turun 1,6 persen.

Kepala riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia, termasuk rupiah, karena kebijakan moneter yang berbeda antara negara-negara maju.

“US Indeks dolar menguat, sebagai bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut pada tahun 2016, sedangkan Bank Sentral Eropa [ECB] dan Bank of Japan [BOJ] memilih untuk mempertahankan kebijakan moneter yang longgar mereka,” katanya .

(Reshie Fastriadi)