Indonesia Akan Terus Ekspor CPO ke Rusia Meskipun Ada Penolakan

Indonesia Akan Terus Ekspor CPO ke Rusia Meskipun Ada PenolakanAnalisaToday – Penolakan Rusia terhadap minyak sawit mentah Indonesia (CPO) tidak merusak tekad pemerintah untuk melanjutkan ekspor CPO ke Rusia. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, mengatakan bahwa pasar CPO Indonesia di Rusia perlu dipertahankan karena nilai yang besar.

“Pasar ekspor CPO Indonesia di Eropa Timur bisa mencapai 1,5 ton. Ini akan menjadi kerugian besar bagi kita karena kita harus kehilangan pasar ini,” katanya di Jakarta kemarin.

Lutfi mengatakan bahwa larangan oleh Rusia terhadap ekspor CPO dari Indonesia tidak lain adalah skema untuk menemukan alternatif sumber CPO, lebih disukai dari negara-negara tetangganya untuk meminimalkan biaya transportasi.

Lutfi juga mengatakan bahwa pemerintah telah dikomunikasikan dengan Departemen Rusia Perdagangan dan Kementerian Ekonomi mengenai masalah. Kedua kementerian telah sepakat untuk menulis ulang pernyataan pemberitahuan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang sebelumnya menyatakan bahwa CPO dari Indonesia harus memiliki kandungan peroksida dari 0,9 persen saat mencapai Rusia.

“Apapun masalahnya, Rusia membutuhkan produk dari Asia akibat embargo Rusia terhadap produk Uni Eropa,” kata Lutfi. Alexey Ulyukaev, Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia yang telah berjanji untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.

Sementara Perusahaan minyak dan gas milik negara Pertamina akan terus meningkatkan harga 12 kilogram (non-subsidi) LPG sampai 2016. Perusahaan menjelaskan bahwa alasan di balik kenaikan ini bertujuan untuk mengurangi kerugian dari penjualan LPG di bawah harga ekonomi standar .

“Sesuai dengan roadmap kami telah mengusulkan kepada pemerintah, kenaikan akan dilakukan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli, pada tahun 2015, kemudian pada tanggal 1 Januari 2016,” kata Hanung Budya, Direktur Pemasaran dan Penjualan untuk Pertamina kemarin. Peningkatan akan ditetapkan Rp 1.500 per kilogram.

Namun, Hanung melanjutkan, setiap kali Pertamina berencana menaikkan harga LPG, perusahaan wajib melaporkan kepada pemerintah.

“Pengguna LPG adalah masyarakat umum, yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi, itu sebabnya kami perlu berkonsultasi dengan pemerintah terlebih dahulu,” katanya.

Konsumsi domestik tahunan LPG telah mencapai 900 ton. Peningkatan ini diharapkan dapat membantu dalam menekan kerugian perusahaan sebesar US $ 114.000.000. Mudah-mudahan, kenaikan harga tiga fase akan membantu LPG untuk mencapai harga keekonomiannya.

(Kikie Aditya)