Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Meningkat Selasa Pagi

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Meningkat Selasa Pagi

30
1
SHARE

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Meningkat Selasa PagiAnalisaToday – Tingkat perdagangan antar bank rupiah meningkat sebesar 20 basis poin menjadi Rp 13.350 per dolar di sesi pertama perdagangan Selasa dari Rp 13.370 di sesi perdagangan sebelumnya.

“Rupiah sedikit menguat terhadap dolar, namun penguatan tersebut tertutup oleh peningkatan data ketenagakerjaan US non-pertanian,” kata kepala bagian penelitian NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, seperti dikutip kantor berita Antara.

Reza mengatakan bahwa penguatan rupiah cenderung pendek karena tidak ada sentimen baik dari pasar domestik dan global yang dapat membantu mendorong rupiah lebih tinggi.

“Bank Indonesia [BI] memperkirakan rupiah akan mencapai level terendah pada akhir bulan ini sejalan dengan puncak permintaan dari dolar. Terlepas dari tren, Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk membantu menjaga rupiah stabilitas,” katanya.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Aldian Taloputra mengatakan bahwa BI telah merevisi beberapa peraturan tentang transaksi valuta asing dengan tujuan memberikan perlindungan kepada perusahaan yang mampu untuk mencegah rupiah jatuh lebih lanjut.

Hukum yang direvisi adalah Peraturan BI No. 16/16/2014 transaksi valuta asing antara bank dan pihak domestik, Peraturan Nomor 16/17/2014 tentang transaksi valuta asing antara bank dan lembaga asing dan Peraturan No. 2003/05/13 pada Posisi devisa neto bank. Revisi peraturan tersebut telah efektif per 1 Juni.

“Kami melihat kebijakan BI adalah positif karena akan membantu memperkuat transaksi valuta asing di pasar domestik untuk jangka panjang dan menengah. Pasar derivatif lebih cair akan membantu menciptakan pasar yang lebih efisien, sehingga menyebabkan penyerapan yang lebih dalam rupiah,” kata Aldian.

Sementara itu, inflasi konsumen di China turun menjadi 1,2 persen pada Mei, kata pihak berwenang Selasa, karena tekanan pada harga mengintensifkan dalam perekonomian terbesar kedua di dunia.

Pembacaan untuk indeks harga konsumen, ukuran utama inflasi, yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional lebih rendah dari April 1,5 persen.

Inflasi yang moderat bisa menjadi keuntungan untuk konsumsi karena mendorong konsumen untuk membeli sebelum harga naik, sementara penurunan harga mendorong pembeli untuk menunda pembelian dan perusahaan untuk menunda investasi, yang keduanya dapat merugikan pertumbuhan.

(Reshie Fastriadi)