Data Ekonomi Muncul Beragam Rupiah Diperkirakan Konsolidasi 150x150 Pasar Nantikan Kepastian Harga BBM Baru, Rupiah Diperkirakan Lanjutkan PelemahanFinancerollNilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (28/5) diprediksi melemah. Salah satu pemicunya adalah ditundanya pengumuman penaikan harga BBM bersubsidi.  Potensi pelemahan rupiah hari  ini salah satunya dipicu oleh pemerintah yang kembali memundurkan waktu pengumuman penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi menjadi pekan ketiga Juni 2013 dari rencana awal Juni.

Semakin sering diubah tanggal pengumuman penaikan harga BBM bersubsidi, unsur ketidakpastian di pasar semakin tinggi.  Karena itu, rupiah cenderung melemah dalam kisaran 9.780 hingga 9.830 per dolar AS.  Kondisi itu memperparah sentimen dari meningkatnya risiko politik 2014.  Semakin lama pemerintah menunda penaikan harga BBM itu, beban yang harus ditanggung APBN pun semakin berat.

Terlebih, pasar juga belum tahu bagaimana skema yang akan diterapkan untuk penaikan harga BBM bersubsidi itu.  Apakah berlaku menyeluruh atau pembatasan, atau konsep dua harga. Masih banyak yang belum jelas dari rencana penaikan harga BBM bersubsidi ini sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Jika pemerintah punya rencana yang jelas, penaikan harga BBM sebenarnya bisa menjadi sentimen positif.  Tapi, masalahnya terlalu ditunda-tunda dan masih belum jelas skema apa yang ditawarkan oleh pemerintah sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar. Sementara itu dari eksternal, tekanan negatif terhadap rupiah juga dipicu oleh pasar yang pada sesi Asia masih mencermati pergerakan Japanese Government Bond (JGB).  Jepang merupakan negera kedua terbesar di Asia.

Sentimen pelemahan rupiah masih akan terjaga.  Sebab, nanti malam pasar akan dihadapkan pada serangkaian data AS yang sudah diprediksi memberikan bukti tambahan atas momentum pemulihan ekonomi AS sehingga menambah argumen bagi The Fed untuk mengurangi stimulus.

Indeks harga rumah AS sudah diprediksi naik dari 9,3% menjadi 10,2% untuk April 2013. Begitu juga dengan indeks kepercayaan konsumen untuk Mei 2013 yang diprediksi naik dari 68,1 menjadi 70,7 dan indeks manufaktur Richmond yang membaik dari -6 menjadi 2 untuk Mei.

Dari dalam negeri tidak ada katalis positif yang bisa membantu pergerakan rupiah kecuali jika Bank Indonesia mau mengintervensi pasar.  Selebihnya, pasar masih mencermati potensi kenaikan inflasi, meski pada April tercatat deflasi, defisit neraca perdagangan dan masih lemahnya kinerja impor Indonesia.  Sebagai informasi,  kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (27/5) ditutup melemah 20 poin (0,20%) ke 9.795-9.805. [geng]