Rupiah Diperkirakan Bergerak Datar Cenderung Melemah

by

Rupiah Diperkirakan Bergerak Datar Cenderung MelemahAnalisaToday – Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (24/12) diprediksi datar cenderung melemah. Minimnya sentimen domestik jadi pemicunya.  Tidak ada data ekonomi yang penting hingga 2 Januari 2014. Karena itu, kinerja rupiah masih tergantung dari kondisi defisit neraca berjalan yang masih menjadi penggerak utama pasar hingga enam bulan ke depan.

Seperti yang diberitakan oleh Financeroll, untuk jangka pendek, belum ada perubahan dari laporan defisit tersebut.  Karena itu, rupiah diekspektasikan sideways tapi cenderung melemah dalam kisaran Rp 12.190 hingga Rp 12.275 per dolar AS.  Semalam AS melaporkan data personal spending dan indeks inflasi core PCE. Inflasi sudah diprediksi masih datar di level 0,1% dan personal spending naik ke 0,5% dari sebelumnya 0,3%.  Kenaikan tingkat belanja konsumen ini masih bisa menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi AS.

Namun,   nanti yang lebih penting indeks inflasi core PCE yang merupakan perubahan harga produk dan jasa yang dibeli oleh konsumen.  Inflasi ini berbeda dengan Consumer Price Index (CPI) di mana produk dan jasa langsung ke konsumsi individu.  Saat ini laju inflasi AS menjadi satu-satunya hambatan yang menyebabkan belum pas dengan skenario The Fed sendiri.  Sebab, inflasi AS masih terlalu rendah di bawah target.

Jika inflasi tersebut semakin tinggi, normalisasi suku bunga The Fed bisa berjalan lebih cepat. Kondisi ini justru membahayakan terhadap potensi penguatan dolar AS terhadap rupiah.  Akibatnya, meski terjadi profit taking dolar AS atau rebound rupiah, tetap akan diikuti oleh risiko pelemahan rupiah.  Sebab, kebanyakan investor masih menghindari rupiah seiring dengan risiko politik yang cukup tinggi pada 2014.

Hasil pemilu yang mulus,  bisa menambah akselerasi investasi masyarakat hingga semester kedua 2014. Yang ditakutkan, jika hasil pemilu kontroversial dan memicu kerusuhan dan mengganggu siklus pengeluaran fiskal.  Ini justru akan berdampak negatif. Kebanyakan investor akan menghindari pasar aset Indonesia kecuali jika mendapat diskon yang cukup besar karena risiko politik.  Untuk diketahui,  kurs rupiah terhadap dolar AS  di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (23/12) ditutup menguat 20 poin (0,16%) ke posisi  Rp 12.180-12.205.

(ARP/AT)