Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 11.620 – 11.667 per USD

by

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 11.620 – 11.667 per USDAnalisaToday – Akibat ketegangan geopolitik Eropa antara Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi. Para pelaku pasar merespons negatif  ketegangan yang terjadi di Ukraina.   Ketegangan tersebut membuat pelaku pasar beralih pada mata uang safe heaven, dolar AS.

Seperti yang diberitakan oleh Financeroll, meski sempat beredar adanya penarikan sebagian militer Rusia di daerah Ukraina namun, pelaku pasar masih mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di Ukraina, termasuk bila Rusia kembali menempatkan militernya.  Keinginan  rupiah untuk dapat menguat pun kandas dengan aksi beli pelaku pasar terhadap dolar AS.  Pelemahan kurs rupiah juga didukung terdepresiasinya laju yen Jepang dan Australia Dolar setelah RBA menyatakan masih perlunya menjaga tingkat pinjaman dengan pelemahan Australia Dolar.

Dengan demikian kurs rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp 11.620 – 11.667 per USD menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI).  Laju rupiah melewati level support Rp 11.618 per USD.

Hari ini, tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah, menyisakan sentimen negatif pergerakan kemarin. Namun, beberapa menit kemudian, rupiah mampu menguat 15 poin atau 0,13 persen ke Rp 11.582 per USD.  Melansir Bloomberg Dollar Index, Rabu (5/2), pada perdagangan non-delivery forward (NDF) rupiah dibuka turun 13 poin atau 0,1 persen ke Rp 11.610 per USD, dari sebelumnya Rp 11.597 per USD. Kurs rupiah bergerak di kisaran Rp 11.582-Rp 11.610 per USD.

Saat ini, perhatian investor pun kembali beralih pada laporan pekerjaan dan industri jasa Amerika Serikat (AS) yang mungkin mensinyalkan adanya ekspansi di ekonomi terbesar dunia tersebut. Akibatnya, dolar AS pun mencatat kenaikannya terhadap yen.  Laporan dari ADP Research Institute di Roseland, New Jersey, diperkirakan akan menunjukkan adanya penambahan 155.000 pekerja untuk Februari menyusul penambahan 175.000 pada bulan.

Pada 7 Maret, Departemen Tenaga Kerja diperkirakan akan menunjukkan payrolls naik 150.000 dari bulan lalu, dan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap pada 6,6 persen, tingkat terendah sejak Oktober 2008. Indeks Institute for non-manufaktur Supply Management mungkin merosot ke 53,5 bulan lalu dari 54 pada Januari. [geng]

(ARP/AT)