Rupiah Melemah Ke 11,673 Per Dollar Pada Jumat Pagi.

Rupiah Melemah Ke 11,673 Per Dollar Pada Jumat Pagi.AnalisaToday – Nilai tukar rupiah diperdagangkan antar bank di Jakarta pada Jumat pagi melemah sebesar 12 basis poin menjadi Rp 11.673 per dolar AS, turun dari Rp 11.661 per dolar sebelumnya.

Kepala Trust Securities Reza Priyambada mengatakan bahwa rupiah jatuh jam 9 pada hari Jumat karena pelaku pasar sedang menunggu pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Mayoritas pelaku pasar menunggu dan melihat keadaan, sehingga situasi ini menempatkan beberapa tekanan terhadap rupiah,” kata Reza di Jakarta, Jumat.

Namun, ia mengatakan bahwa ada peluang yang baik untuk mata uang domestik menguat di perdagangan sore karena sejumlah mata uang di kawasan Asia Tenggara, seperti peso Filipina, baht Thailand dan ringgit Malaysia, dihargai di pagi hari.

“Jika sentimen eksternal tinggal di mode positif sepanjang hari, rupiah diperkirakan akan diperdagangkan antara Rp 11.660 per dolar dan Rp 11.678 per dolar,” tambahnya

Sementara Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk meluncurkan uang kertas Rupiah yang baru dirancang pada Senin 18 Agustus,

“Kami awalnya berencana meluncurkannya pada tanggal 17 Agustus 2014, tetapi 17 jatuh pada hari Minggu, jadi kami meluncurkan itu pada hari Senin, “kata Gubernur BI Agus Martowardojo kemarin.

Agus juga menyebutkan bahwa kertas baru akan mengganti frasa cetak menjadi Kesatuan Negara Republik Indonesia dan akan menampilkan tanda tangan Gubernur BI sebagai wakil dari bank sentral, dan menteri keuangan sebagai wakil pemerintah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diharapkan untuk mengungkapkan informasi lebih lanjut tentang peluncuran uang kertas baru dalam pidato parlemen besok. Desain baru akan diluncurkan secara bertahap, dimulai dengan denominasi terbesar.

BI juga meninggalkan tingkat Pinjam Fasilitas Deposit 7,5 dan 5,75 persen,.

Menurut BI, transisi Indonesia untuk menjadi ekonomi yang lebih sehat selanjutnya dibantu oleh kebijakan makroekonomi yang stabil dan efisien.

“Hal ini tercermin dari bagaimana pemerintah mampu mengendalikan atas permintaan domestik dan membawa inflasi di bawah kendali, meskipun terus-menerus defisit transaksi dipicu oleh perubahan pola pengeluaran sepanjang kuartal kedua 2014,” kata Agus.

Agus mengatakan BI terus bekerja menuju kebijakan moneter yang lebih kuat dan kebijakan pengelolaan utang yang lebih baik, terutama utang luar negeri di sektor korporasi. Selanjutnya, BI akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu inflasi kontrol dan menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

(Rahmat Hidayat)