Rupiah Melemah Pada Penutupan Rabu

Rupiah Melemah Pada Penutupan Rabu

42
0
SHARE

Rupiah Melemah Pada Penutupan RabuAnalisaToday – Rupiah melemah 0,88 persen menjadi Rp 14.016 per dolar AS di pasar spot pada penutupan Rabu sebagai akibat dari ekonomi China melambat. Peneliti PT Monex Investindo Futures dan analis Vidi Yuliansyah mengatakan pasar Asia bereaksi negatif terhadap tingkat inflasi November China, yang meningkat menjadi 1,5 persen dari 1,3 persen sebelumnya.

“Angka ini tidak cukup signifikan dan jauh dari indikasi pemulihan yang terjadi di perekonomian Cina. Ketika kepercayaan dalam perekonomian China, pasar Asia yang terkena dampak,” kata Vidi seperti dikutip Kontan.co.id, Rabu.

Sebelumnya, China merilis data perdagangan yang mengecewakan untuk November, dengan surplus perdagangan yang menurun dari 393 miliar yuan ke 343 miliar yuan. Impor dan ekspor juga turun 5,6 dan 3,7 persen, masing-masing. Pada saat yang sama, cadangan devisa China turun US $ 87200000000, yang menciptakan kesengsaraan di pasar uang Asia, termasuk di Jakarta.

“Karena libur umum [dan penutupan Bank Indonesia], tekanan eksternal tak terbendung,” kata Vidi.

Di lain hal, Indonesia berpotensi menambahkan tambahan 4 hingga 6 juta perusahaan bisnis selama dekade terakhir, 2006-2016, sehingga jumlah perusahaan yang berjalan antara 26 dan 29 juta menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Wakil kepala BPS untuk statistik distribusi dan layanan Sasmito Hadi Wibowo mengatakan badan tersebut akan menjalankan Sensus Ekonomi 2016 dari 1 Mei hingga 31 tahun depan untuk mencatat jumlah yang tepat dari perusahaan berjalan di Indonesia. sensus 2016 akan menjadi badan keempat yang telah dijalankan.

Dalam sensus pertama, pada tahun 1986, ada 9,3 juta perusahaan. Dalam sensus tahun 1996, angka itu meningkat menjadi 16,4 juta, dan mencapai 22,7 juta pada tahun 2006.

Dalam sensus terakhir, perusahaan perdagangan dan manufaktur yang didominasi bisnis di Indonesia, akuntansi untuk 44 persen dari total. Perusahaan konsultasi diikuti akuntansi 17 persen, maka perusahaan peralatan, 10 persen, listrik utilitas perusahaan, 9 persen, dan perusahaan pelayaran akuntansi untuk 6 persen.

(Muhammad Rizal)