Senin Pagi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Berada di Rp 12.174

Senin Pagi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Berada di Rp 12.174AnalisaToday – Rupiah Tingkat perdagangan antar bank di sesi pertama perdagangan Senin dihargai oleh 26 basis poin menjadi Rp 12.174 per dolar AS dari Rp 12.200 per dolar AS pada sesi penutupan Jumat pekan lalu.

“Nilai tukar rupiah menguat di pagi hari karena pelaku pasar mengharapkan pemerintah untuk menaikkan harga BBM,” kata analis Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada Senin seperti dikutip kantor berita Antara.

Dia juga mengatakan bahwa langkah bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 7,5 persen memberikan sentimen positif untuk mata uang domestik.

Dia mengatakan, bagaimanapun, bahwa apresiasi rupiah masih terbatas karena perpecahan di DPR mengenai harga BBM rencana kenaikan.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,24 persen menjadi 5,037.3 oleh 09:00 pada hari Senin dan saham perusahaan blue-chip yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 0,35 persen menjadi 862,45, kompas.com melaporkan.

Saham di enam dari 10 sektor yang diperdagangkan di BEI gagal melakukan perbaikan dalam perdagangan pagi, dengan aneka industri rekaman penurunan terbesar, turun sebesar 0,9 persen, diikuti oleh infrastruktur dan perdagangan dengan 0,47 persen dan 0,3 persen tetes masing-masing.

Saham dalam indeks LQ45 yang melihat kerugian terbesar termasuk PT Ekspres Transindo (TAXI), PT United Tractor (UNTR) dan PT Media Nusantara Citra (MNCN).

IHSG datar selama minggu lalu dua hari terakhir perdagangan, bergerak dalam kisaran ketat dari 5048 sampai 5049 bps. Kurangnya kedua sentimen domestik dan eksternal menyebabkan investor ragu untuk membeli dan memilih untuk menunggu.

Thendra Chrisnanda, analis dari BNI Securities, mengatakan investor masih menunggu rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi untuk terwujud. Sebagai November memasuki minggu ketiga, masih belum ada kejelasan atas kebijakan kenaikan BBM, yang memicu kekhawatiran bahwa akan ada kerusuhan sosial yang lebih luas.

“Kecemasan investor, yang telah mulai bergeser menjadi kemungkinan gejolak sosial, membuat beberapa dari mereka semakin pesimis mengambil membeli,” kata Thendra.

Dia mengatakan bahwa sebagian besar investor juga khawatir tentang prospek jangka pendek beberapa saham menyusul kenaikan harga BBM.

(Reshue Fastriadi)