Tingkat Perdaganan Rupiah Antar Bank Menurun Pada Senin Pagi

Tingkat Perdaganan Rupiah Antar Bank Menurun Pada Senin Pagi

26
0
SHARE

Tingkat Perdaganan Rupiah Antar Bank Menurun Pada Senin PagiAnalisaToday – Tingkat perdagangan Rupiah antar bank di sesi pertama perdagangan Senin terus menurun dan mendekati level terendah dalam 17 tahun terakhir. Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 13.382 per dolar AS dibandingkan dengan Rp 13.290 per dollar pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada awal pekan ini, rupiah sedang tertekan oleh sentimen eksternal dan domestik.

“Tekanan terhadap rupiah, semakin melemah, bisa lebih buruk hari ini setelah adanya dua berita buruk, yaitu cadangan devisa Indonesia jatuh dan penguatan data tenaga kerja AS, yang melebihi ekspektasi,” kata peneliti Samuel Sekuritas Indonesia Senin pagi.

Sementara itu, BUMN dan PT Pembangunan Perumahan (PT PP) akan menghabiskan sekitar Rp 1 triliun, bagian yang lebih besar dari pengeluaran modal (capex), pada semester kedua tahun ini, dengan pembangkit listrik menjadi fokus utamanya .

“Dari total Rp 1,8 triliun dari belanja modal kami, sekitar 40 persen atau Rp 800 miliar akan dihabiskan pada semester pertama. Sisanya, akan dihabiskan di semester kedua,” kata Direktur PT PP, Tumiyana di Jakarta pekan lalu.

Tumiyana menjelaskan bahwa perusahaannya sebagian besar akan membangun pembangkit listrik dan pelabuhan proyek di masa itu. PT PP saat ini menyerukan tender untuk pembangunan pembangkit listrik di Kalimantan Barat dan Gorontalo.

Sebelumnya telah dilaporkan bahwa PT PP bertujuan untuk mengambil bagian dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara dengan kapasitas total 2×100 megawatt (MW) di Kalimantan Barat.

Tumiyana mengatakan bahwa pembangunan akan dilakukan melalui perusahaan secara kolektif, dimana PT PP akan memiliki saham 20 sampai 45 persen.

Anton mengatakan total investasi untuk dua proyek pembangkit listrik multi-tahun akan mencapai sekitar Rp 4 triliun, dengan masing-masing pembangkit listrik membutuhkan antara Rp 1,2 triliun dan Rp 2 triliun. Pada kuartal pertama saja, PT PP telah menghabiskan Rp 220 miliar untuk membiayai sejumlah proyek, termasuk pengembangan pabrik pracetak di Lampung dan pembelian tanah di Surabaya, Jawa Timur.

(Kikie Aditya)