Tingkat Perdagangan Rupiah Menguat Pada Senin Pagi

Tingkat Perdagangan Rupiah Menguat Pada Senin Pagi

10
0
SHARE

Tingkat Perdagangan Rupiah Menguat Pada Senin PagiAnalisaToday – Tingkat perdagangan rupiah antar bank menguat sebesar 24 poin menjadi Rp 13.097 per dolar AS pada sesi pertama perdagangan Senin, naik dari Rp 13.121.

“Rupiah menguat dalam tren terbatas bersama-sama dengan mata uang Asia lainnya,” kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta seperti dikutip kantor berita Antara.

Menurut Rangga, penguatan terbatas sejalan dengan penurunan data pengangguran di AS ditambah dengan kenaikan tingkat lapangan kerja non-pertanian, kata Rangga.

Bank Himpunan Saudara devisa pengamat Rully Nova mengatakan bahwa investor lebih optimis terhadap perekonomian Indonesia berikut harapan positif bahwa pemerintah akan mempercepat pembangunan infrastruktur di paruh kedua tahun ini.

“Harapan positif, yang memberikan kontribusi sentimen menguntungkan bagi rupiah meskipun hanya terbatas, diharapkan akan direalisasikan sebagai investor perlu kepastian,” tambahnya.

Ekonom Destry Damayanti mengatakan nilai tukar rupiah diproyeksikan berkisar antara Rp 13.000 dan Rp 13.400 per dolar AS, jauh di atas asumsi Rp 12.500 per dolar sebagaimana tercantum dalam revisi APBN untuk tahun 2015.

“Saat ini, pasar sedang menunggu untuk melihat apakah pemerintah bisa memulai groundbreaking proyek infrastruktur,” katanya seperti dikutip Antara di Jakarta, Senin.

Ekonom mengatakan dia yakin bahwa jika proyek infrastruktur menunjukkan kemajuan yang baik, ini segera bisa mengubah sentimen di pasar, yang sekarang cenderung berhati-hati, ingin pemerintah untuk kepastian.

Destry mengatakan struktur ekonomi Indonesia masih terpengaruh oleh beberapa faktor, terutama di sektor industri, yang belum dikembangkan secara optimal.

“Ketika ekonomi kita tumbuh, konsumsi akan tumbuh dan ini akan diikuti oleh peningkatan impor, termasuk impor bahan baku seperti baja. Jika kita menggunakan ini di sektor produktif, ini akan menarik investor, “kata Destry, menyoroti bahwa 76 persen dari impor Indonesia adalah bahan baku.

Dia juga memproyeksikan defisit neraca Indonesia saat ini akan mencapai 2,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir tahun ini.

(Reshie Fastriadi)