Tingkat Perdagangan Rupiah Menguat Rabu Pagi

Tingkat Perdagangan Rupiah Menguat Rabu Pagi

11
0
SHARE

Tingkat Perdagangan Rupiah Menguat Rabu PagiAnalisaToday – Tingkat perdagangan Rupiah antar bank di sesi pertama perdagangan Rabu menguat ke Rp 13.171 per dolar dari Rp 13.194 per dolar dalam perdagangan sebelumnya. Nilai tukar rupiah akan menghadapi tekanan sampai akhir pekan, ketika akan mereda jika data ekonomi positif.

Data penelitian Samuel Sekuritas Indonesia menunjukkan kelesuan ekonomi dan peningkatan harga komoditas akan mendukung surplus perdagangan. Tekanan terhadap rupiah akan mengurangi akhir pekan ini. Pengembalian obligasi pemerintah masih akan mengikuti kenaikan yield global dan khawatir luas tentang pelebaran defisit anggaran. Hal ini akan memaksa rupiah jatuh di tengah penurunan indeks dolar.

Jatuh cadangan devisa menunjukkan upaya Bank Indonesia untuk menambah dollar-pasokan di tengah aliran dana dari saham dan obligasi pasar. Tingkat pertumbuhan yang lambat ditambah dengan membangun harapan dalam penurunan suku bunga Bank Indonesia akan memberikan tekanan pada rupiah. Saldo set perdagangan akan diumumkan Jumat bisa menciptakan sentimen positif terhadap rupiah.

Di lain hal, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada tahun 2030 dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,3 persen dan produk domestik bruto (PDB) sebesar US $ 4 triliun (GDP negara saat ini adalah sekitar $ 900.000.000.000).

Selama lima tahun ke depan, pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang sangat ambisius dari 7 persen per tahun dengan PDB per kapita di 2019 sebesar Rp 72 juta ($ 5.450), meningkat lebih dari satu setengah dari PDB per kapita pada tahun 2014.

Target pertumbuhan yang tinggi ini membawa konsekuensi kebutuhan dana yang tinggi untuk pembangunan. Rencana pembangunan jangka menengah pemerintah (RPJM 2015-2019) memprediksi bahwa untuk mencapai target ini, sekitar Rp 22,5 kuadriliun dana yang dibutuhkan dengan kontribusi dari pemerintah sekitar 15 persen.

Sekitar 25 persen (Rp 5,5 kuadriliun) diperlukan, untuk pembangunan infrastruktur, yang meliputi jalan, kereta api, tanah, udara dan laut transportasi; pembangunan perkotaan; kekuasaan; energi; teknologi Informasi; sumber daya air; sanitasi dan perumahan.

Untuk pendanaan infrastruktur, pemerintah mengharapkan bahwa sektor swasta akan memberikan kontribusi sekitar 31 persen sementara sisanya akan diberikan oleh pemerintah pusat dan daerah serta BUMN.

(Reshie Fastriadi)