BTPN Perbesar Dana Obligasi dan Pinjaman Luar Negeri

by

Perbesar Dana Obligasi dan Pinjaman Luar NegeriAnalisaToday – Emiten perbankan, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk akan memperbesar pendanaan dari obligasi dan pinjaman luar negeri untuk mengakomodasi penyaluran kredit mikro dan pensiunan yang bertenor panjang. Sesuai rencana, komposisi pendanaan dari kedua instrumen itu akan dijaga kontribusinya pada kisaran 12-15 persen terhadap total pendanaan.

Seperti yang diberitakan oleh Financeroll.co.id, Direktur Keuangan BTPN Arief Harris mengatakan, jika mengandalkan pendanaan dari dana pihak ketiga (DPK), tenornya rata-rata pendek, yaitu sekitar tiga bulan. Kalaupun ada DPK yang bertenor panjang, paling lama hanya satu tahun dan itupun berasal dari dana institusi, seperti dana pensiun atau asuransi. Padahal, pinjaman yang disalurkan BTPN rata-rata bertenor 3-5 tahun.

Sebagai informasi, hingga kuartal III-2013, dari total pendanaan BTPN sebesar Rp 55,77 triliun, sekitar Rp 49 triliun berasal dari DPK atau berkontribusi 88 persen terhadap pendanaan. Sementara sisanya, yaitu 12 persen dikontribusi dari pinjaman dan obligasi yang berjumlah Rp 6,7 triliun.

Menurut Arief, untuk penerbitan obligasi pada Maret 2013 lalu, perseroan baru saja menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III senilai Rp 750 miliar. Penerbitan itu merupakan isu terakhir untuk Obligasi Berkelanjutan Tahap I senilai Rp 2,5 triliun.  Selain itu, perseroan menerbitkan lagi Obligasi Berkelanjutan II Tahap I dengan nilai total Rp 4 triliun. Penerbitan perdana sudah dilakukan pada Juni 2013 senilai Rp 800 miliar. Masih ada ruang penerbitan senilai Rp 3,2 triliun dan akan diselesaikan dalam waktu dua tahun.

Di sisi lain, sumber pendanaan   yang juga menjadi andalan BTPN adalah fasilitas standby loan dari International Finance Corporation dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) senilai USD  200 juta. Arief  menambahkan,  fasilitas standby loan ini sudah disepakati pada Oktober 2013.  Kendati dana tersebut sudah diterima oleh BTPN, namun perseroan belum menggunakannya.

Sesuai rencana, ke depan, perseroan  akan memproses lagi fasilitas standby loan ini senilai USD 200-300 juta. Meski demikian,  belum bisa memastikan waktu pencairan fasilitas itu.  Kedua fasilitas pendanaan ini tentunya akan digunakan untuk membiayai penyaluran kredit mikro dan pensiunan BTPN. Hingga kuartal III-2013, total penyaluran kredit BTPN mencapai Rp 45,3 triliun, naik 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk diketahui, dari total penyaluran kredit itu, sekitar Rp 30,86 triliun dikontribusi dari kredit pensiunan. Selanjutnya, sekitar Rp 10 triliun dikontribusi dari kredit mikro, Rp 1 triliun dari program Tunas Usaha Rakyat yang dikelola melalui pembiayaan syariah dan Rp 3,3 triliun dari sektor lainnya.

(ARP/AT)