IHSG dan Rupiah Serempak Melemah

by

IHSG dan Rupiah Serempak MelemahFinanceroll Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama terjebak di zona pelemahan. Pasar mengabaikan positifnya rilis kinerja salah satu emiten di AS, Alcoa dan merespons buruknya performa rupiah.

Stagnannya rupah di level lemah Rabu kemarin salah satunya dipicu oleh pasar yang waspada menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) besok. Pasar ingin melihat bagaimana persepsi BI terhadap outlook ekonomi, kondisi neraca perdagangan, dan neraca berjalan Indonesia yang masih negatif.

Pelaku pasar juga menantikan, apakah BI akan menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) sebagai upaya meredam pelemahan rupiah lebih jauh dan juga mengantisipasi tekanan inflasi. Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.800 dengan level terkuat 9.700 per dolar AS. Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (9/1) ditutup stagnan pada level lemah 9.740-9.750.

Selain itu, BI akan tetap mempertahankan suku bunga Fasbi dan BI rate. Tapi, BI kemungkinan akan memberikan outlook ekonomi Indonesia yang agak berhati-hati dan BI akan menegaskan masih lemahnya kinerja neraca perdagangan Indonesia dan neraca berjalan.

Selain itu, rupiah memang diproyeksikan melemah tapi bertahap. Intervensi BI sejak beberapa bulan terakhir juga lebih ditujukan untuk menjaga stabilitas pelemahannya agar tidak drastis. Sebab, dengan neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit dan outlook ekonomi global yang masih melemah, pelemahan rupiah masih dibutuhkan untuk membantu kinerja ekspor dan meredam laju impor. Jadi, memang secara fundamental mendukung untuk pelemahan rupiah. BI hanya bertindak sesuai dengan keadaan seharusnya.

Sementara itu, dari faktor eksternal, sebenarnya tidak banyak peruabahan sentimen. Sentimen positif justru datang dari laporan keuangan salah satu emiten di AS, Alcoa. Earning Price per Share (EPS) Alcoa dirilis sebesar USD 0,21 dari prediksi USD 0,6 dan dari publikasi sebelumnya minus USD 0,18.

Selain itu, Alcoa memproyeksikan permintaan alumunium naik 7% pada 2013 dari kenaikan 2012 yang hanya 6%. Ini jadi sentimen positif karena mengisyaratkan berlanjutnya momentum pertumbuhan ekonomi global. Di sisi lain, pasar juga masih ingin menunggu hasil pertemuan kebijakan moneter dari European Central Bank (ECB) pada Kamis (10/1). Pasar mengkhawatirkan ECB akan memangkas suku bunga acuannya dari level saat ini 0,75%.

Akhirnya, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 80,41 dari sebelumnya 80,33. Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke USD 1,3077 dari sebelumnya USD 1,3080 per euro.

Dari bursa saham, IHSG kembali ditutup melemah pada perdagangan hari ini di tengah menguatnya sebagian bursa regional menyusul ekspektasi positifnya kinerja korporasi di AS. Laporan keuangan korporasi merupakan indikator penting untuk menunjukkan ekonomi suatu negara.

Sebagai informasi, pada perdagangan Rabu (9/1) IHSG ditutup melemah 34,617 poin (0,79%) ke posisi 4.362,928. Dari dalam negeri, anjloknya nilai tukar rupiah menjadi katalis negatif bagi IHSG. Pelemahan kurs ini diproyeksikan akan membayangi pergerakan saham, terutama yang memiliki exposure dollar yang tinggi.

IHSG masih bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Kisaran support-resistance 4.330-4.385. [geng]